Sekedar Baperannya Penulis SUPER DIDI di Belakang Layar

Jarang gue baper sampe nulis note gini, tapi ini udah gak tahan lagi. (apa cobak???)

Lewat film Super Didi gue makin kagum sama Vino G. Bastian.

vino bastian

Di kala beberapa aktor yang ditawarin peran Didi bertanya soal “berapa scene” dan/atau “budget”, Vino malah tanya “Kapan kita bisa ketemu dan diskusi?”. Padahal MUTI DIDI FILM yang mau bikin film ini adalah Production House baru. Produser Eksekutifnya pun orang baru di dunia film. Dan waktu itu Vino baru dikirimin 3 lembar sinopsis. Hanya dari sinopsis, Vino udah ngajak tim produser untuk ketemuan. Padahal menurut manajernya, biasanya Vino minta naskah draft 1 untuk pertimbangan terima peran atau nggak. Berarti Vino melihat “sesuatu” di film ini.

Peran ayah muda dengan dua anak perempuan usia 5 dan 4 tahun ternyata bikin Vino antusias dan penasaran. Sewaktu dikirimin sinopsis itu, Vino juga ayah muda dengan 1 anak perempuan usia 2 tahun, Jizzy. Di mata Vino, Film Indonesia perlu cerita yang begini. Dan menurut Vino, peran macam ayah di Super Didi juga belum ada. Apa yang ada di sinopsis Super Didi itu real. Nggak mengada-ngada. Abang iparnya ngalamin apa yang dituturkan di situ. Vino sendiri merasa pasti akan ngalamin juga. Lalu Vino mau belajar sesuatu dari film ini. Film yang saat itu bahkan belum ada naskah draft 1-nya.

Atas permintaan seorang Vino, ketemuan lah tim produser, penulis, sutradara dengan Bapak ini. Kami belum ada yang pernah ketemu langsung sama Vino. Tapi muka sih hafal (ya iyalaa). Yang jelas, cakepan aslinya. Hihihiii.

Di meeting pertama, setelah basa basi sebentar, Vino ngomong kenapa dia tertarik banget ngajak ketemuan. Ya kurang lebih seperti gue tulis di atas. Bahwa dia melihat cerita ini real, karakternya nyata, dst. Nah, soal karakter… emang nyata… ini kan terinspirasi dari kisah nyata si Produser Eksekutif dan keluarganya, dan semua tokoh di dalam film ini beneran ada, dengan tingkah yang beneran komikal juga.

Sejak itu Vino emang aktif kasih komentar dan masukan soal naskah. Lugas. Tapi gue sebagai penulis yang ketempuhan revisi nggak (terlalu) keberatan sama komentarnya. Jujur aja, penulis suka bete kalo naskahnya dikoreksi langsung sama pemain. Ini nggak. Bukan karena Vino ganteng. Bukan karena dia aktor papan atas. Tapi karena di balik lugasnya, terasa kalau Vino juga merasa ikut memiliki cerita ini, terasa niat Vino untuk memoles cerita ini jadi lebih baik, lebih detil, lebih nyata, dan dia sampaikan semuanya dengan cerdas dan masuk akal… dan ujung2nya Vino minta maaf, meski tetap kekeuh. :p

Senang melihat Vino antusias untuk main di film ini. Bahkan dia sempat cerita, kalau dia nolak satu judul lain yang jadwalnya nyaris bentrok, karena “Mendingan gue pilih (Super Didi) ini, ceritanya lebih bagus!”. (aaaak! jadi pengen meluk!) Tapi di balik antusiasnya Vino, menjelang reading dia sempat keliatan resah gelisah. Ternyata dia akuin sendiri kalo dia emang beneran deg-degan buat memerankan tokoh Didi Arka. “Gue belum pernah dapat peran ayah yang seperti ini, dan menurut gue peran ini berat.” (duh, manusiawi banget sih).

Vino did it outstandingly!

Proses kerja sama ama Vino G Bastian bikin gue ngeh kenapa dia jadi Aktor Terbaik. Gak cuman aktingnya yang oke, tapi tingkah laku-nya juga. Di lapangan dia sangat membantu, begitu cerita pak produser dan teman-teman lapangan. Sejak awal Vino udah bilang, kalau main film sama anak kecil, bintangnya bukan orang dewasa, tapi anak kecil itu sendiri, dan kita harus ngikutin mereka. Lalu Vino-lah yang bantu dua pemeran cilik di film ini, Anjanique dan Aviela, sampai mereka paham kenapa mesti nangis, kenapa mesti ketawa… karena Vino ngasih alasan yang bisa mereka terima.

Vino juga bikin kemistri antar mereka bertiga sangat nyata, baik di depan maupun belakang kamera. Pernah suatu saat Vino main mobil-mobilan sama mereka, keliatan konyol. Tapi bukankah kalo ama anak-anak mah konyoljuga bodo amat, yang penting anaknya senang? Trus kalo Vino, Anjanique dan Aviela ketemu, pasti ada peluk erat dan cium hangat kayak ayah dan anak-anaknya beneran.

Very cute, right?

Satu lagi dari Vino… meski lagi sakit kecapekan, dia nggak nunjukin sakitnya itu. Biar yang lain juga tetep semangat. Tinggal kita-kita yang ngeh yang resah.

Love you Vino Giovanni Bastian.

Beruntung Super Didi dapat pemeran utama sekelas Vino. Semoga bintangmu makin bersinar, makin banyak memberi inspirasi dan kebaikan buat semua, dan tetap rendah hati.

** Super Didi adalah film Indonesia, dan potret kehidupan keluarga urban masa kini. Ia karya bersama dari sebuah tim yang anggotanya buanyaak. Sulit ya untuk nyebutin satu-satu. Dari produser, pemain film Super Didi, juga kru pra sampai pasca produksi. Yang jelas Terima Kasih buat semua. Terutama buat EP Reymund Levy dan Lidwina Heryani, LP Pandu Adiputra dan Sutradara Hadrah Daeng Ratu yang udah percayakan penulisan naskah ke gue. Sejak pertama kita ketemu di rumah EP, semua terasa ajaib dan luar biasa :). Kalian penuh cinta. Dan itu menular ke seluruh tim. Terasa lho saat proses pembuatan film ini, bahkan sampai sekarang. Sukses terus buat kalian.

Penulis: Budhita Arini

Iklan

Hello world!

Welcome to WordPress.com. After you read this, you should delete and write your own post, with a new title above. Or hit Add New on the left (of the admin dashboard) to start a fresh post.

Here are some suggestions for your first post.

  1. You can find new ideas for what to blog about by reading the Daily Post.
  2. Add PressThis to your browser. It creates a new blog post for you about any interesting  page you read on the web.
  3. Make some changes to this page, and then hit preview on the right. You can always preview any post or edit it before you share it to the world.